Yekti Mahanani
Masih ingat rasanya saat aku mendapat amanah tak terduga ini. Shock. Ga tahu harus berbuat apa.
Suatu divisi yang paling kuhindari adalah danus. Sejak masuk tingkat satu hingga beberapa waktu yang lalu, aku paling susah untuk menjajakan suatu barang. Padahal masuk ke IPB juga lewat UTM (Ujian Talenta Masuk), yang mana itu basis penerimaan mahasiswa baru adalah kewirausahaan dan kepemimpinan. Memang, saat SMA dulu pernah bantu bulek jual jilbab bergo ke sekolah dan temen-temen di kelas. tapi entah kenapa pas uda kuliah di IPB, muncul rasa HDT (Harga Diri Tinggi) untuk berjualan. Takut ga laku, takut ngabisin sendiri, dan masih banyak ketakutan yang lain.
Dan, semua ketakutanku itu menjadi sebuah halangan bagiku untuk tumbuh belajar bisnis. Padahal, gue mahasiswa ekonomi, bro! lebih tau bagaimana mengelola keuangan, marketisasi, negosiasi, dan dampak bagaimana omset bisa jadi keuntungan.
Rasulullah bersabda bahwa 9 dari 10 pintu rezeki dibuka dari bisnis. Tak hanya itu, QS Al-Baqarah 279 juga menyebutkan, bahwa Allah menghalalkan jual beli (perdagangan) dan mengharamkan riba ..
Nah, paragraf diatas hanya sebagai landasan aja ..akhirnya ..
Sebuah amanah datang kepadaku tanpa kuinginkan. Menjadi sekdiv danus. wooo ..
Padahal, aku tak pernah bersentuhan dengan dunia per-danus-an sebelumnya. Dan ternyata teman-teman staff danus adalah yang udah expert dan sering malang melintang di dunia perdanusan. Kalo selama ini sering ngwawancarain orang buat jadi fundraising, malah akunya ogah masuk gituan ..
Allah Maha Tahu kapan waktu yang pas
Minder, ga tau apa-apa yang harus dilakukan. Tapi, Alhamdulillah dapat support dari berbagai pihak yang tak terduga.
Tim yang dahsyat serta dukungan dari banyak pihak, menjadikan aku optimis akan menorehkan banyak cerita di kehidupanku ..
고마워 , KEROPAK ..
Sudah berpuluh-puluh tahun lamanya, mereka hidup dengan puing-puing asa yang tak pernah padam. Meskipun hanya bersenjatakan kerikil, mereka dapat melawan zionis keji itu. Air mata sudah menjadi teman bagi mereka, kala mereka disiksa oleh tentara keji itu. Orang tua kehilangan anak, istri kehilangan suami, dan anak-anak kehilangan orang tuanya. Anak-anak Palestina tak bisa lagi mengenyam pendidikan secara layak, belajar diantara desingan peluru dan puing-puing reruntuhan bangunan.
Bagaimana bisa hingga saat ini mereka masih berjuang dan menjadi hafidz Qur’an di masa anak-anak mereka? Bagaimana bisa mereka menjadi hafidz dengan tanpa fasilitas pendidikan yang layak dan sistem keamanan yang baik? Jika mereka saat ini bisa tumbuh menjadi generasi robbani meskipun tanpa adanya fasilitas pendukung yang layak untuk menampung ide-ide brilian mereka, bukankah akan lebih baik jika terdapat sebuah fasilitas pendidikan yang layak untuk menampungnya?
Masa emas bagi seorang anaka adalah antara umur 1-5 tahun. Di masa-masa itu, perlu diberikan perhatian khusus karena dapat mengembangkan kemampuan dan kepribadian seseorang. Maka perlu kita membantu sahabat kita disana untuk memperoleh kemerdekaannya dengan menyediakan fasilitas pendidikan.
Membangun sebuah fasilitas pendidikan, TK, bukan merupakan urusan yang mudah. Perlu banyak dana untuk itu. Maka, kami, FSLDK Indonesia, menggalang dana untuk pembangunan TK di Palestina. Untuk itu, mari rapatkan barisan, siapkan infaq terbaikmu untuk Palestina.
How to be Optimistic ??
Step 1. Let go of the assumption that the world is against you,
or that you were born with a gray cloud over your head.
Step 2. Look for the source of your pessimism.
Step 3. Understand that the past does not equal the future.
Step 4. See yourself as a cause, not an effect.
Step 5. Accept pain, failure and disappointment as a part of life, not the entirety of it.
Step 6. Be thankful.
Step 7. Use positive affirmations
Step 8. Remember that life is short.
Step 9. Be a balanced optimist.
Step 10. Use quotes to remind yourself how to be optimistic. :)))
please reblog to spread this nice post


